Menjadi Guru yang Ikhlas dan Pemaaf
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah swt atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan berkah-Nya kepada seluruh alam, dan memang seluruh pepujian hanya berhak disanjungkan dan dihaturkan kehadirat-Nya sebagai subyek utama kehidupan, yang kita berserah diri total dalam pengabdian iman, islam, dan ihsan.
Shalawat serta salam tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, imam utama umat manusia, uswatun khasanah, serta pembimbing umat dari jalan gelap kejahiliyahan menuju terang benderangnya Cahaya Islam. Yang menjadi penuntun umat manusia menuju pengabdian kaffah kepada Allah swt.
Tema kali ini berangkat dari ceramah di madrasah Al-Hikam, dimana saya sekarang berkhidmat menjadi guru pengajar disana. Ceramah yang disampaikan oleh kepala madrasah Al-Hikam dalam rangka pemberian nasehat dan wejangan kepada teman-teman mahasiswa yang telah menyelesaikan program magang mengajarnya. Mereka calon guru-guru muda yang nantinya akan berkhidmat mengajar di instansi masing-masing.
Cermah Bu Ika, kepala madrasah Al-Hikam tersebut, bagi saya bukan hanya ditujukan kepada teman-teman mahasiswa, tapi juga menjadi wejangan bagi saya pribadi, sebagai anggota baru pengajar di madrasah Al-Hikam.
Bagi saya, wejangan mengenai bagaimana sikap menjadi guru yang baik bagi murid-muridnya, sangatlah berkesan mendalam di hati. Pertama, sebab saya sebetulnya tidak berasal dari latar belakang pendidikan saat kuliahnya, sehingga bekal mengajar pun kurang memadai. Kedua, saat ini saya mengajar baru 2 bulan, setelah sebelumnya menjadi guru pengganti di awal Januari tahun 2021 ini. Qadarallah, guru yang saya gantikan, almarhumah Bu Wahyu Utami, meninggal dunia setelah sakit selama kurang lebih 2-3 bulanan (Al-Fatihah untuk Almarhumah Bu Wahyu Utami). Saya cukup syok dan bersedih hati mengenai hal itu, sebab saya kira setelah 2 bulan Bu Wahyu Utami kembali sembuh dan bisa mengajar lagi, namun kehendak Allah berkata lain. Inilah alasan saya yang menjadi sebab mengapa ceramah Bu Ika sangat berkesan, yaitu saya cukup kewalahan menghadapi sikap murid-murid.
Satu bulan awal merupakan masa-masa permulaan saya mengajar, memang cukup kewalahan untuk bisa menguasai kondisi kelas. Sebagai guru baru, pengalaman awal itu terkadang membuat saya jengkel dan sedih. Hingga akhirnya mendapatkan wejangan dari ceramah Bu Ika, tentang menjadi guru ikhlas dan pemaaf.
Bahwa memang, menjadi guru sejati (pengajar hakiki) tidak bisa satu dua tahun langsung jadi, apalagi saya yang baru 1-2 bulan mengajar. Perlu waktu panjang untuk bisa menjadi guru yang ikhlas serta pemaaf dalam menghadapi anak murid dengan berbagai karakter, maka guru dituntut untuk selalu menjadi guru yang tidak memiliki dendam jika anak murid melakukan kesalahan. Karena sebetulnya mereka memang dalam tahapan keaktifan (jika tidak disebut kenakalan) yang demikian, sesuai dengan tingkatan kelas.
Seperti yang diceritakan Bu Ika, bahwa kenakalan murid itu tidak hanya terjadi di tingkat sekolah dasar atau menengah saja, bahkan setingkat sarjana strata satu (S1) juga mempunyai kenakalannya tersendiri. Oleh karena itu, Bu Ika mengingatkan kepada segenap guru bahwa dalam menghadapi murid yang nakal, guru harus mengingat tentang dirinya ketika masih berposisi menjadi murid, yang juga melakukan kenakalan-kenakalannya di sekolah. Misalnya mencontek teman, bolos pelajaran dan pergi jajan ke kantin, dlsbnya. Dengan mengingat hal tersebut, guru jadi bisa lebih sabar serta pemaaf terhadap murid yang nakal. Sabar dan pemaaf bukan berarti membiarkan murid melakukan kesalahan atau kenakalannya. Murid harus diingatkan bahkan ditegur jika melakukan kesalahan, tapi selanjutnya kita berikan permaafan kepadanya serta kita doakan agar tidak mengulangi lagi.
Itulah beberapa kiat yang disampaikan Bu Ika, bagi saya hal itu sangat berkesan dan bisa menjadi pembelajaran saat mengajar, agar saya bisa menjadi pengajar yang ikhlas dan pemaaf serta sabar dalam mengajar. Allahuma aamiin.

Komentar
Posting Komentar